Mengenang #Bagian 3



Mau Masuk Pesantren

Menerawang. Garis-garis kehidupan memang sudah dituliskan oleh sang Maha Kuasa. Banyak kenangan yang perlu di tulis agar lembar sejarah tak terlupakan. Bayangkan jika tak terlulis, tak banyak buku yang terbit tentang biografi, tak banyak tokoh yang kita ketahui bagaimana jalan cerita hidup mereka. Banyangkah coba ?, menerawang.

Tamat dari Sekolah Dasar, bapak saya sudah punya planning memasukkan saya di Pesantren untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi, waktu itu di daerah Riau, karena saya berasa dari Riau juga. Hal ini di utarakan bapak kepada saya dan mama " Albar nanti masuk pesantren ya ". Nah, pesantren itu apa pak. Pesantren itu kita diam disana belajar agama. Dimana pak ?, di Tungkal " Begitu kata bapak. Bang Al gemana, ? kata mama. " Abang sih iya aja mak". 

Begitulah awal pembicaraan, keesok harinya bapak ke pasar, pas pulangnya bapak bilang " tak jadi ke tungkal kita kebatam aja, masuk pesantrennya. Rekomendasi pak Amir". Batam, ya saya tau daerah itu. Kata buk guru kalian kalau mau nyambung sekolah jangan ke batam. "kenapa buk" batam kota neraka kata ibuk guru kala itu. Well akhinya saya mau kebatam juga, tapi bukan kenerakanya buk tapi jalan kesurganya. Hahaha

Hari yang telah di tentukan akhirnya saya berangkat kebatam, sebelum kebatam saya pastinya pamitan kepada mamak, waktu itu bapak yang antar. Salamlah sama mama, tapi waktu salaman mama nangis, ya saya awalnya tidak nangis tapi akhirnya nangis juga. Mama bilang "bagus-bagus ya belajarnya" nanti lewat depan rumah ibuk guru jangan lupa pamit juga. Akhirnya disepanjang jalan saya nangis, bapak diam saja. Lewat depan rumah ibuk guru nangis saya sudah hampir reda, Tapi pas pamit sama ibuk guru saya nangis lagi. Jadilah nangis sesion kedua. Saya memang cengeng.

Sampailah saya di Kota Guntung, weh saya anak kebun yang tak tau apa, tak tau ini itu, Waktu itu ketemu sama pak amir, dia tanya ini albar?, ia pak saya albar. Saya lupa hari apa itu, yang jelas mama waktu itu memberikan saya baju warna merah kotak-kotak. Itulah baju terindah yang saya gunakan. Sebuah pemberian dari orang tua, awal cerita hidup saya sampai saat ini. Mama dan bapak, I LOVE U lah.

Dari guntung ternyata saya tidak sendiri, ada teman saya dua orang, namanya haris dan ponijo. Waktu itu saya naik kapal marina, dua tingkat dengan kafasitas sekitar 100-200 orang. Itu pertama kalinya saya berjalan jauh sekali, awalnya juga saya merasakan AC sejuknya nauzubillah, maklum selama ini tak pernah kena AC. ACnya mirip kulkas, waktu itu saya tidak tau apa itu AC, tanyalah sama bapak, pak ini apa, kok dingin " AC" jawab bapak. Entahlah apalah itu AC yang jelas dia sejuk.

Saya tidak tau berapa lama perjalanan waktu itu, yang jelas melewati beberapa pulau dan menyinggahi orang, saya kira setiap singah ini adalah batam, ternyata bukan, singah lagi saya kira ini batam, ternyata juga bukan. Hanya menurunkan penumpang. 

Akhirnya kapal bersandar, kita disuruh turun ke pelabuhan, Kami turun, di pelabuhan tapi hanya di pelabuhannya saja, ternyata kami teransit waktu itu bapak bilang sedang di karimun. Ada kisah menarik disini, namanya juga anak kampung, saya dan kawan kawan lemapar lempar ikan di pelabuhan ini dan main air, kami dimarahin oleh petugas. Takutnya setengah mati kami. Maklum sebelumnya belum pernah lihat yang begituan, di kampung saya air lautnya keruh semacam kopi radix.

Akhirnya kami naik lagi ke kapal, saya ingat warna kapalnya, hitam. Lajunya juga mantap. Dikapal ini saya coba lebih berexpresi, saya coba naik ke lantai atas melihat pemandangan, weh indah sekali. Baru kali ini saya lihat pulau-pulau berderet. Sunguh indahnya indonesia. Rasa bahagia timbul tapi sedikit pas ingat mama di rumah. Campur aduklah perasaan ini semacam gado gado. 

Sebelum sampai dibatam saya melihat gedung-gedung tinggi saya kira itu batam, cepat-cepat saya ke bawah bilang sama bapak " pak sudah mau sampai batam, ada bangunan tinggi-tinggi". Bapak hanya diam saja sambil duduk nganguk dan merem. Itu bapak saya.


Ternyata oh ternyata itu bukan batam melainkan Singapore, ya kami lewat perbatasan antara singapore dan batam, tak lama kemudian kami sampai di pelabuhan sekupang.Inilah batam yang katanya kota neraka itu.

Kisah berlanjut, saya dan kawan-kawan naik mobil, ini kali keduanya saya naik mobil yang pertama kali waktu pulang kampung nenek di tembilahan, itu kecil sekali. Kali ini sudah lumayan bujang. Namanya juga anak kampung, di mobil ini saya tidak diam, banyak tanya ini itu sama bapak, bapak hanya diam saja, pak amir hanya senyum-senyum saja. Mungkin aneh lihat saya, kawan saya tidak seusil saya. Di Mobil ini saya pencet pencet tombol kaca kaca mobil, owh ini buat turunin kaca, oh yang ini buat naikin kaca mobil, akhirnya saya pencet tombol itu terus jadi kacanya naik turun-naik turun. Anak kampung, biasalah.

Akhirnya kami sampai juga di pesantren. 

Bersambung.....

0 komentar:

Post a Comment

Social Icons

 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved