Kearifan Lokal Sebagai Budaya Pendidikan Leluhur


Mengenal Kearifan lokal, maka kita mengenal dua kata yaitu kearifan (wisdom) atau kebijaksanaan dan lokal (local) atau setempat. Jadi kearifan lokal adalah gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Lebih gampangnya kita mengenal kearifan lokal sebagai nilai-nilai budaya yang baik yang ada di dalam suatu masyarakat.

Di suatu tempat, seorang anak muda yang bersalaman dengan orang tua tanpa menundukkan kepala maka dianggap kurang ajar, itu adalah kearifan lokal. Di Sulawesi, suatu kearifan lokal tercipta dari orang-orang bugis. Bahwa, saat kita akan melewati didepan orang tua yang sedang berbicara kemudian kita berlalu begitu saja tanpa menundukkan kepala dan menjatuhkan tanggal kanan seraya berucap "tabe" maka itu dianggap kurang ajar, “ tidak ada sopan santun". 

Seperti itulah kearifan lokal. Dari kecil kita diajarkan sopan santun ala lokal dengan kebijaksanaan ala orang-orang tua zaman dahulu. Meski mereka tidak tau apa itu kearifan lokal, tapi mereka mengajarkan nilai nilai luluhur yang baik. Bagaimana sopan dan santun, bagaimana pula cara bergaul dengan sesama, bagaimana pula berinteraksi antar yang muda dengan yang lebih dewasa, antar yang dewasa dengan yang tua. Semua ada etika. Dan kearifan lokal mengajarkan hal itu waktu dulu.

Lalu mari kita sejenak melihat perilaku anak-anak era ini. Tentu kini berbeda, sebagai komparasi mari kita bertanya tentang sebuah kearifan lokal yang masih dipegang teguh ditempat kita yang masih menjadi sebuah nilai tersendiri jika tidak melaksanakannya. Rasanya sulit mengatakannya meski ada. Ya, sebuah nilai kearifan yang hilang, segala kebijaksanaan diganti dengan budaya-budaya baru, yang merubah sikap, mental dan tatanan budaya dalam sebuah masyarakat itu sendiri. Rasanya kearifan lokal itu lenyap bak hilang ditelan bumi, kini segala kearifan sudah sirna, hilang entah berantah, yang ada moral-moral yang menyimpang. jauh dari norma agama dan nilai leluhur yang baik.

Suatu generasi yang mencemaskan, ,mungkin itu adalah kita, mungkin itu adalah keluarga kita. generasi kini sedikit sekali yang masih memegang kearifan lokal, bukan  tidak sedikit kita temukan nilai moral yang menyimpan pada usia muda masa kini, sebagai contoh anak sekolah dasar (SD) sudah berpacaran, belum lagi yang remaja. Beberapa kasus pembegalan adalah rata-rata komplotan anak remaaja setara sekolah menengah pertama (SMP dan sekolah menengah atas (SMA). Belum lagi kasus baru-baru ini tentang pemerkosaan yang yang bisa dikatakan masih remaja. Segala bentuk penyimpangan hadir dan nampak didepan mata kita. 

Tentu segala bentuk penyimpangan perlaku dan moral ada sebabnya, sebagai contoh mudahnya akses internet sehingga mudah pula masuk nilai-nilai yang tidak baik. Baik itu lewat sosial media, atau situs-situs lain, belum lagi tontonan televisi (TV) yang jauh dari nilai edukasi yang diserap tanpa filter dan hal-hal lainnya. 

Mengikuti perkembangan zaman memang perlu, karena lingkungan berkembang, otak kita berkembang dan cara berfikir kita juga ikut berkembang sehingga kita perlu mencoba untuk menyesuaikan agar kita tidak tertinggal. Akan tetapi bukan berarti menghilangkan nilai-nilai baik didalamnya, salah satunya adalah nilai kearifan lokal.
Dengan kearifan lokal , kita mengenal sopan dan santun, dengan kearifan lokal kita belajar berpikir, dengan kearifan lokal kita belajar menfilter yang membuat hati enggan melakukannya. 

Bukan tanpa sebab kenapa nilai-nilai norma dan agama jauh dari anak-anak masa kita, mungkin termasuk kita. Karena banyaknya nilai luar yang masuk sementara sedikit filter dalam diri kita. Selain itu sedikitnya nilai edukasi dalam diri, sehingga untuk penguatan hati dalam melakukan segala sesuatu yang bertentangan sangat sulit dilakukan meskit tahu bahwa hal tersebut salah. Tentu peran keluarga juga sangat diperlukan, karena keluarga adalah bangku sekolah utama. Segala nilai dan kontrol yang baik dalam keluar akan mampu menjadi anak-anak yang berperilaku baik, tentu agama adalah tonggak moral, pemahaman agama yang baik akan menjadi insan yang baik pula. 

Pemahaman agama yang baik, peran keluarga yang berkesinambungan dan pengajaran nilai-nilai budaya dan leluhur lewat kearifan lokal tentu akan menjadikan anak-anak dan kita yang lebih berbudaya yang sesuai dengan harapan semua orang. 

0 komentar:

Post a Comment

 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved