Mengenang # Bagian 1

Masa Kecil

Masa kecil adalah masa-masa indah meski kita hidup serba keterbatasan, akan tetapi justru keterbatasan menjadikan sebuah cerita yang menarik kala dewasa kelak. Aha, waktu kecil saya suka makan buah ciplukan di kebun-kebun yang tumbuh secara tak teratur. rasanya manis kalau sudah masak, kalau masih mengkal-mengkal rasanya agak manis kepahit-pahitan, saya bersykur dilahirkan lebih awal waktu itu. Era tahun 90an. 

Catatan boleh saja lusuh di terpa oleh waktu, termakan usia tapi sebuah kenangan akan melekat selamanya didalam ingatan. Coba saja mengingat lambat laun ia akan  membawa menjelajahi masa lampau.

Ini cerita tentang kehidupan saya, nama saya Muhammad Albar, saya lahir di sebuah daerah terplosok yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan, tanpa debu dan polusi mobil, daerah tersebut bernama Sungai Guntung. 

Saya lahir tahun 1993 tanggal 19 juni. Saya adalah anak pertama yang dibesarkan oleh orang tua, kata ibu dan ayah saya punya kakak tapi waktu kecil dia meninggal, jadi secara otomatis saya adalah anak pertama di dalam keturunan keluarga saat ini.

Waktu kecil saya sering bertanya ke mama, kenapa dibulan itu ada gambarnya, mama bilang itu adalah gambar orang sujud, nanti kalau sudah tak sujud lagi itu tandanya mau kiamat, dilain waktu juga mama bilang Atok pernah bilang kalau itu adalah gambar orang menjahit katanya kalau sudah selesai menjahit itu tandanya mau kiamat. Waktu itu saya percaya saja, padahal mama hanya mengarang menjawab pertanyaan saya sambal mencuci piring di dapur.

Masa kecil saya sangat sulit, waktu itu saya belum sekolah tapi saya sudah mengingat secara pasti bagaimana ayah dan ibu bekerja, kami pergi dari satu desa ke desa lain di sungai guntung, dari desa bakau lurus ke desa penjuru, saya ingat waktu itu kami tinggal di tengah hutan, saya megingat pasti juga mama memasak nasi mengunakan tunggu dari kayu dan jika selesai memasak maka kayu tersebut juga sudah habit di grogoti oleh api, karena disana tidak ada batu, bukit maupun kawah, tanahnya gambut semua, bahkan kami memijak tanah tersebut bisa- bisa kami terjebak dalam sebuah lubang, karena tanah gambutnya belum padat.

Karena saya dan orang tua tinggal di hutan, saya kalau malam sering mengingau, kata mama saya sering teriak teriak, kadang nangis, kadang juga ketawa kalau sedang tidur. Kata mama, kalau lihat hutan sekeliling tidak boleh tunjuk-tunjuk dan tanya-tanya, kalau saya tunjuk dan saya tanya nama benda-benda yang di hutan itu nanti malam pasti saya ngigau, heranya kalau saya tidak tanya-tanya saya tidak mengigau. Tapi waktu itu saya masih kecil, masih suka saja tanya-tanya sama ayah saat lagi jalan dihutan-hutan, soalnya watak saya selalu ingin tau, walau kadang dimarahi ayah karena sering tanya ini itu.

Ya, waktu kecil saya sudah berlanjut, saya masih belum sekolah, tapi saya masih mengingat pasti hal-hal itu yang adek-adek saya tidak pernah lalui. Saya juga mengingat pasti saat mama saya jatuh sakit sekitar 4 bulan, semacam tak sadar diri, sering teriak-teriak, kadang nangis ketakukatan, katanya ada orang besar disitu, sayapun jadi takut. Waktu itu nenak sampai dating untuk ngurus mama, karena ayah juga harus kerha untuk cari makan kami. Sewaktu mama sembuh albar tanya, kenapa mama teriak teriak seperti itu, kata mama dia selalu lihat orang besar dan kadang dibawa kelorong yang gelap seperti lorong waktu, disitulah kadang mama sering tak sadar diri. Semacam film di tv-tv tapi itu nyata dan itulah yang pernah kami alami. Oh ya, saat mama sakit ini saya sudah punya rumah yang terbuat dari kayu tapi masih sederhana sekali, karena rumah disana kayu semua tidak ada yang beton.


Waktu terus beranjak, tapi saya berasa lupa yang pernah saya alami disana, yang saya ingat lagi saya terkejut saat dibawah ayah ke kampong hulu untuk bantu orang angkat rumah, rumahnya besar, dan itu diangkat oleh orang ramai untuk di pindahin, disitulah saya mulai kenal beberapa teman, yang sebelumnya saya tidak ada teman sama sekali, hanya ayah dan ibu, saya ingat saat mereka berbica yang waktu itu saya tidak mengerti mereka berbica apa, dan tidak tau Bahasa apa, lambat laun barulah saya tau kalau mereka itu Berbahasa bugis sementara saya orang melayu kata mama, tapi bapak saya orang banjar. Ah, nama teman tersebut saya tidak ingat, yang jelas beberapa kali bertemu kami sudah main bersama, saya masih suka takjub lihat hal hal baru seperti mercon waktu itu. Wah hebat sekali bisa meledak, saya girangnya setengah mati , walau saya tak bisa memegang mercon tersebut karena saya tidak punya.

Nah, mama pernah cerita kalau saya waktu kecil suka sekali memecahkan pering dan menghilangkan sendok, makanya waktu itu dirumah tidak ada piring kaca mama beli semuanya piring pelastic,karena saya suka curi piring dan sendok untuk buat main, sendok itu di tokok-tokok di piring akhirnya pecah, owh ya saya ingat kejadian ini, rasanya waktu itu saya sangat bodoh. Waktu itu kami tingal dirumah orang, tapi orangnya tidak ada karna lagi di desa lain, disinilah saya suka main tokok-tokok pring. Soal kenapa kami pindah saya tidak tau, padahal sebelumnya kami sudah punya rumah, kalau tak salah waktu itu ayah buat rumah yang agak lebih bagus. 

Ya. waktu kecil saya adalah anak yang cukup bandel, kata mama waktu bayi Albar ini maunya di ayun terus di ayunan, kalau tidak di ayun tidak mau tidur dan nangis, terpaksa bapak dan mama giliran tidur untuk mengayunkan saya, agar tidak nangis.


Dilain waktu mama juga cerita saya pernah ke kampung  nenek ( ibunya bapak ) di tembilahan, karena di guntung tidak ada rumput putri malu maka kalau jalan-jalan saya selalu ketingalan, karena menyentuh daun putri malu yang seperti layu saat di sentuh, di suruh jelan cepat baru jalan lagi kalau tidak jalanya pasti lama gara-gara putri malu itu, dilain waktu saya juga bandelnya tidak ketulungan, saya pernah memasukkan sumur orang dengan banyak sampah, sementara sumur tersebut tempat orang mandi.

Akhirnya sayapun dimasukkan sekolah oleh orang tua, yang saya ingat sekolahnya dekat masjid karena kampong tersebut belum ada sekolah, sedangkan penduduknyapun masih bisa dihitung jari. Saya harus berjalan kaki sekitar setengah jam saja untuk sampai di sekolahan masjid tersebut, sayapun tidak mengingat pasti siapa nama guru saya, siapa juga teman teman saya, yang jelas cukup banyak ada sekitar sepuluh orang.

Yang saya ingat ada seorang guru yang makan piring kaca di depan kelas, entah mengunakan ilmu apa, yang jelas dia memang bisa makan piring kaca dan di kunyah kunyah. Wah waktu itu sekali lagi saya benar benar takjub.

Waktu terus berlalu, saya bahkan tidak mengingat sampai kelas berapa saya sekolah di masjid tersebut, dan saya tidak mengingat juga waktu itu pakai seragam sekolah apa tidak, yang jelas ada beberapa hal yang saya ingat, waktu itu saya ingat guru saya yang baru namanya Buk Rawatiyah, mengantikan pak guru sebelumnya. Waktu itu saya ingat juga saat teman teman saya pada jajan dan saya hanya bisa melihat, karena saya tiak punya uang, jajan yang waktu itu paling ingin saya makan adalah kurup yang besar terbuat dari singkong dan diatasnya di olesi oleh gila merah cair, saya pernah mencicipi sekali itupun hanya sedikit dikasi teman.

Waktu terus berlalu, masih sekolah di masjid itu, saya ingat selain jajan kerupuk itu ada juga nasi kucing, nasinya sedikit terus ada sampai ikan teri pakai kacang, rasanya enak sekali, saya pernah di kasi teman, namanya hamka. Nah hanya dia nama teman yang saya ingat, lainya saya lupa.

Hari terus berlalu, akhirnya kami pindah sekolah, bukan ke tempat sekolah lain melainkan gedung baru tidak di masjid lagi, disini baru saya banyak mengingat kejadian, saya juga mengingat kejadian, bagaimana sekolah saya, bagaimana teman saya, bagaimana rumah saya, bagaimana kebun ayah dan ibu yang sebelumnya hanya hutan belantara.

Disekolah baru ini saya ingat saya kelas 4 sd, ah kalau tidak salah, berarti bisa di pridiksi, dimasjid saya sekolah sekitar 3 tahun, tapi kata mama saya kelas 2nya cepat  karena waktu itu saya pintar, cepat tanggap membaca jadi saya di cepatkan naik peringkat atas, tapi saya tidak ingat.  Nah disekolah baru ini saya sudah mengunakan seragam sekolah, lengkap dengan sepatunya, kami liburnya bukan hari minggu melainkan hari jum’at karena nama sekolah ini bukan sekolah dasar negeri melainkan MI yaitu Madrasah Ibtidaiyah, nama sekolah MI Al-Azhar Penjuru. 

Sekolah saya saat ini lebih dekat sedikit, saya pergi sekolah masih jalan kaki, waktu itu ayah sudah punya seperda, tapi hanya satu jadi ya dipakai oleh ayah untuk kerja. Ya kondisi keluarga kami masih jauh dari harapan, bisa dibilang miskin tapi ayah masih terus berusaha untuk kerja, saya masih ingat ketika dirumah taka da lauk untuk makan, maka mama hanya masak kepala ikan asin, soal makan saya memang tidak rewel, saya sukanya makan terasi, jadi kalau ada terasi bakar sama nasi saya sudah bisa makan. Sampai sekarangpun saya masih suka makan tersasi.

Soal makan, saya bisa makan apa saja tapi tetap saja makanan kesukaan saya terasi dan jantung pisang itu, oh ya, saya dan mama tidak bisa makan ikan darat ( ikan air tawar ) hanya ayah yang bisa makan, tapi ayah tak pernah mau makan, karena takut dimarahin mama, nanti mama muntah muntah di rumah, kalau ayah makan ikan itu, ia sih mama yang masakin tapi masaknya sambal ngomel. Biasalah emak-emak, Waktu itu saya belum punya adek.

Mari lanjut bercerita tentang era sekolah, saya punya beberapa teman, ada hendra, hamka, ratih, rita, rahmah dan lainnya, saya masih ingat mukanya tapi lupa namanya.
Ya..waktu teruse berlalu, sekolah kami hanya 3 lokal, sementara anak yang sekolah dari kelas 1 sampai kelas 6 jadi sekolah dibagi menjadi dua sesi, jam pertama untuk anak anak kelas 1-3 dan jam kedua untuk anak – anak kelas 4-6. Kami pulang sekolah jam 1 siang. 
Teman teman sekolah saya adalah kelahiran era tahun 90an, sudah pasti kami bermain dilapangan semua, tanpa hp dan gatgets, waktu itu kami tidak pernah mengenal hp apalagi gatget, tv saja susah, ada sih teman punya beberapa permainan yang namanya gamebot itu, tapi itu teman bukan saya, sekali lahi hidup saya masih susah untuk membeli yang begituan.

Disekolah saya sering bermain petak umpat di semak belukar, main polisi-polisian dan penjahat, saya lebih suka jadi penjahat, jadi saya yang sembunyi disemak, teman teman yang nyari, itu kami sembunyi hati juga ikut deg dekan takut ketahuan oleh teman yang menjadi polisi. 

Selain bermain petak umpat saya juga sering bermain poli dan kasti. Pokoknya inilah permainan anak anak sekolah dulu, selain itu ada permainan kelerang, saya jagonya bermain kelereng, dirumah  banyak sekali kelerang , sampai 4 botol Aqua besar, tapi saya paling tidak bisa bermain gambar dan karet, mungkin setiap orang punya skill masing masing kali ya. Hehehehe


Bersambung..........

0 komentar:

Post a Comment

Social Icons

 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved