Hidup Menawarkan Pilihan

 
Menyapa pagi, sejenak saya teringat sebuah tulisan yang sangat indah di Fanspage Stefanus Sandy, Katanya.

" Hidup selalu menawarkan pilihan.
Tersenyum atau marah.
Memaafkan atau membalas.
Mencintai atau membenci.
Bersyukur atau mengeluh.

Tidak ada pilihan tanpa kosekuensi.
Namun "DIA" selalu memberikan yang terbaik.

Rencana tetaplah rencana.
Rencana kita boleh indah, namun rencana TUHAN tetaplah yg terindah ".

Dia


Dia sang pujangga,
menuliskan sajak puisi,
puisi tentang kerinduan,
rindu akan datangnya sang penyejuk jiwa,
Dia bertanya pada burung
pada gelap malam,
adakah Ia pernah singgah
untuk menyapa engkau,
mereka tak menjawab,
hanya tersenyum kecil
dalam dan penuh makna,
Dia sang pujangga,
memejamkan kedua matanya
berlinangkan air mata
membasahi baju lusuhnya,
Dia jauh dari dunia fana
tapi ia lebih dekat dengan cinta.

Mengubah diri mengubah dunia.

Ketika aku muda dan bebas berkhayal, aku bermimpi ingin mengubah Dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah. Maka cita-cita itupun agak kupersempit, lalu kuputuskan untuk hanya mengubah Negeriku. Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya. Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, kuputuskan untuk mengubah Keluargaku - orang-orang yang paling dekat denganku. Tapi celakanya merekapun tidak mau diubah.

Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari: "Andaikan yang pertama kuubah adalah Diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan, mungkin aku bisa mengubah Keluargaku. Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, bisa jadi akupun mampu memperbaiki Negeriku; kemudian siapa tahu, akupun bisa mengubah Dunia."

Tulisan yang mengharukan tersebut dipahat di atas sebuah makam Westminster Abbey, Inggris dengan catatan tahun 1100 Masehi.

Katanya "dimasa mendatang - saat ajal datang, tidaklah bijak menyesali yang tidak pernah kita coba lakukan hanya karena kita tidak cukup keyakinan untuk memulainya.

Peminta Itu


Suatu Hari. Simpang Lampu Merah, Bandara Hang Nadim Batam. Sekitar Jam 14.00

Saya : Adek
Adek Pengemis : Ia
Saya : Adek Sehari Dapat Berapa. Ada 50 Ribu.
Adek Pengemis : Ada
Saya : Kalau 100 Ribu
Adek Pengemis : Ada
Saya : Kalau 200 Ribu
Adek Pengemis : Ada
Saya : Kalau 250 Ribu
Adek Pengemis : Kadang Kadang

Wow, nilai yang fantastis untuk ukuran seorang pengemis, ya setara UMK Kota Batam, anggap saja 2 juta itu juga sudah bagus sekali.

Pantesan saja ada larangan memberi pengemis di Perda . Untuk beberapa hal peminta lebih kaya dari pada pemberi hanya dengan kostum yang berbeda. Namun pada dasarnya tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah, dan tentunya harus jelas kemana pergi apa yang kita berikan. Lainnya ikhlas dari setiap apa yang keluar kantong-kantong kita.

Dengan Tulisan...


Terkadang dgn tulisan, bisa mengungkap rasa terpendam.
Karena dalam untai kata, terselip makna tanpa bias,
dan aku mencoba mengukirnya lewat malam.
Menyatu bersama hati dan fikiran, diantara pekat dan dingin malam ini.

Semoga saja bisa menabur sedikit kenangan
Agar sepahit apapun, bisa menjadikan hikmah.
Sebab hidup adalah perbuatan.

Hari Ini Adalah Keputusan Hari Kemarin


Kita memang engak tau kita apa masih melihat matahari terbit besok, tapi setidaknya kita mempunyai mimpi dan tujuan apa yang harus kita capai untuk hari esok. Seperti kata bijak, selagi masih muda dan memiliki banyak waktu , kita harus pandai memanfaatkan waktu lebih bijaksana supaya dapat memberikan lebih banyak manfaat.

Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa siapa Anda hari ini adalah hasil dari setiap pilihan dan keputusan yang Anda buat kemarin.

Memberi


Adalah kebahagiaan ketika kita bisa memberi,
adalah sebuah kebahagiaan ketika kita bisa menolong.

Memberi yang berarti adalah ketika sebuah pemberian begitu di BUTUHKAN.
Tak memandang kasta, tapi sesuai dengan apa yang sedang di PERLUKAN.

Satu sesi di acara Kick Andy bersama Irwan Hidayat Dirut Sido Muncul.

Kick Andy : Saya selalu ingin tau, tentang apa yang terpikirkan oleh orang-orang seperti anda tentang berbagi. Banyak orang yang khawatir karena dengan berbagi hartanya akan berkurang, takut harta warisan yang diberikan kepada anak akan berkurang juga. Apakah ada ketakutan dengan demikian anda akan menjadi miskin begitu ?

Irwan Hidayat : Yaa, sejauh ini ngak. Semakin kita sadar ngak maka semakin semangat...Sejauh pengalaman saya, semakin kita membantu, "Yang paling berharga itu apa ?" HATINYA TENTERAM.

Ya, "memberi bukanlah mengurangi apa yang telah diberikan tuhan kepada kita, melainkan mengembalikan hak orang lain yang dititipkan Tuhan pada kita."

Kenangan


Apapun kenangannya memang wajib disimpan. Tapi harus tau dimana meletakkan kenangan itu.
Karena itulah yang menjadikan nostalgia suatu waktu yang akan hadir kembali.

Tak ada yang benar-benar buruk didunia ini bukan, dan tak ada juga yang benar-benar baik. Karenanya tak ada yang sempurna di dunia ini.

Termasuk kenanganmu, apakah sepahit itu, atau mungkin semanis apa ia. Pahit dan manis hanya soal waktu, kelak kenangan akan berdamai dengan hati kita. Kata orang " bahkan aku sulit mengingat yang aku tau aku sudah seperti saat ini ".

Memilih Mu


Semakin dewasa seorang lelaki semakin selektif dalam memilih. Percaya bahwa ada ukuran tersendiri kenapa harus kamu yang menjadikan ia suka.

Jika orang tuamu kaya, kaupun punya rumah, bawa mobil tak akan menjadi dasar kenapa harus memilih mu.Karena yang ia lihat adalah bagaimana kau menjadi seorang ibu.

Ya sederhana bukan, cukup kau terlihat bisa menjadi seorang ibu, mampu menjaga anak-anaknya kelak.

Dan ia dapati surga itu ada di rumah yang terdapat engkau didalamnya.

Pergi

Pergi, ya pergi
Jika ia pergi lalu aku bisa apa ?
Menunggu tak mungkin, karena belum tentu ia kembali
Lantas yang tersisa hanya luka kemudian kesepian datang menemani.
Banyak kali kenangan lewat, bahkan mampir lalu menginap lama dalam ingatan.
Semakin ia ku usir pergi, semakin lama ia menetap.

Terus dan terulang.

Kata pergi merubah segalanya. Jika ia cerah maka pergi adalah mendung lalu halilintar datang bergemuruh lengkap dengan hujannya.

Salahkan cinta ?, tidak. Kita menang yang bodoh atau kita yang terlena dengan indahan, sementara hidup perlu di uji.

Lantas, salahkah yang pergi ?.
 
Copyright © 2015 Bang Bintang, All rights reserved